Malam yang indah dari malam lainnya. Bumi masih setia berputar pada porosnya. Aku termenung di jendela asrama, memandang langit yang dikeributi banyak bintang, juga memandang rembulan yang bersinar terang. Aku mulai bosan dengan kegiatanku ini, aku mulai membuka lemari dan mengambil sebuah roti untuk aku makan. Aku mengalihkan pandanganku ke kamar. Ada bang Salud yang sedang mengaji di samping tiang, juga ada mas Fadiq yang sedang melantunkan bait-bait nadzham Alfiyyah, lalu ada Gimin yang mengobrol bersama Moqtafin dan Alfin. Dan juga yang lainnya. Aku menghembuskan nafas ketika melihat mereka semua. Mereka semua terlihat senang, aku pun juga ikut terbawa senang. Sekarang aku kelas XII, sebentar lagi hampir lulus, aku akan sangat rindu dengan mereka.

Pandanganku teralihkan oleh seorang perempuan dari jendela asrama putri lantai tiga. Gedung santri putra dengan santri putri jaraknya tidak terlalu jauh, hanya beberapa langkah. Terpisah oleh gerbang yang tebal memanjang memutari pesantren. Aku tahu lantai tiga untuk anak kelas XII. Jadi aku yakin, pasti dia itu satu angkatan denganku.

Aku menjelaskan pandanganku kepada perempuan itu. Sepertinya dia sedang melihat-lihat sekitar. Aku menikmati pemandangan ini, sesekali aku melihatnya dia tersenyum, dan juga kadang dia tertawa. Tawanya yang indah menyejukkan setiap pundi-pundi tubuhku. Duh gusti, nikmat tuhan manakah yang kamu dustakan, aku bergumam dalam hati. Aku memperhatikannya lagi, lagi, dan lagi. Tiba-tiba dia menoleh ke arahku dan melambaikan tangan kepadaku, aku membalas lambaiannya sambil tersenyum. Lalu dia memandangiku terus-menerus. Aku bergantian melambaikan tangan, dan dia tersenyum manis lalu masuk kembali kedalam kamar dan menghilang entah kemana. Aku sangat bersyukur dengan nikmat Allah yang diberikan kepadaku. Walaupun, apakah dia nanti akan menjadi milikku.

***

Hari-hari berganti, tanggal-tanggal berubah. Masa lalu biarlah berlalu, masa depan hanya Allah yang tahu.

Di kelas. Aku sedang memperhatikan guru kami. Pak Hidayat, yang sedang menerangkan tentang Nahwu Shorof, itu pelajaran yang aku sukai. Aku memperhatikannya dengan serius, dan tibalah saat sesi tanya jawab. Pak Hidayat menunjuk teman kami. Gimin, dengan pertanyaan yang tadi sudah dipelajari.

          “Ayo, Gimin. Apa tandanya I’rob Nashab?”

          “Fathah, kang.”

          “Ya, shoheehh….”

          “Masya Allah, Masya Allah.” Teman-teman menyoraki Gimin, lalu Gimin salah tingkah sendiri.

Tiba-tiba pak Hidayat terlihat seperti mencari sesuatu.

          “Cari apa, kang?” Aku menanyainya

          “Cari penghapus, gak ada penghapus tho disini?”

          “Mboten enten, kang.” Aku menjawab dengan takzim

          “Ya sudah, ini saya punya rezeki sedikit. Tolong Malik, belikan penghapus di toko merah!” Sembari menyodorkan lembaran uang berwarna biru.

          “Njih, Pak.” Aku langsung menerima uang itu dan mengajak salah satu temanku, Author untuk menemaniku ke toko merah.

Sesampainya di depan toko merah muncullah suatu masalah. Ada banyak sekali santriwati di dalamnya. Aku baru teringat, bahwa sekarang adalah shift putri, semua santri putra dilarang untuk masuk ke dalam kecuali dengan membawa surat izin dari pihak berwenang. Aku dan Author memberanikan diri untuk masuk ke dalam toko merah tersebut, lagian juga aku tidak mengenal mereka sebagaimana mereka tidak mengenalku, mungkin. Di dalam aku dan Author mencari penghapus itu, dan alhamdulillah kami dapat menemukannya dengan mudah. Karena sebenarnya kami juga menahan malu akan banyaknya santriwati disana. Disaat aku hendak membayar ke kasir, aku menengok ke kanan, secara tidak terduga. Perempuan itu, perempuan yang kulihat di jendela asrama. Perempuan yang melambaikan tangannya kepadaku dengan senyum manisnya. Perempuan yang tidak bisa membuatku tidur semalaman. Dia berada tepat di sampingku, berdiri menunggu antrean kasir sebelah. Aku menatapnya dengan penuh tanda tanya. Entah mengapa aku kikuk sendiri. Ingin menyapanya tapi tidak bisa. Apa yang harus kulakukan?, parasnya yang indah membuatku tak ingin mengalihkan pandanganku darinya. Lalu dia menatapku, dan aku menatapnya, jadilah kami saling tatap-tatapan, waktu terasa bergerak 100 kali lebih lambat. Akhirnya dia memberanikan diri membuka suara.

          “Hai.” Ucapnya lembut.

Belum sempat aku menjawabnya tiba-tiba dia nyelonong pergi keluar meninggalkanku yang masih berdiri diam penuh tanda tanya, ternyata dia telah selesai berbelanja.

          “Woi, ngelamun bae, jadi beli nggak?” Kasir di depanku telah berteriak mengagetkanku.

          “Eh, iya mas, maaf maaf.” Jawabku sedikit ngah-ngoh.

Lalu aku segera membayarnya dan mengajak keluar Author yang sembari tadi asyik melihat-lihat para santriwati yang sedang kebingungan mencoba minyak wangi untuk dibawa pulang. Kami berdua kembali ke kelas dan Author sibuk berceloteh tentang santriwati yang tadi dilihatnya, sedangkan aku sama sekali tidak mendengarkannya. Pikiranku masih tertuju pada si dia dan kenangan indah yang tertinggal bersamanya, walaupun hanya sesaat tetap saja itu sungguh luar biasa.

***

          Akhir semester pun tiba. Setelah melalui ujian-ujian sulit dan berkelit.  Akhirnya aku dan seluruh temanku dinyatakan lulus. Akupun sangat senang sekaligus membayangkan akan kuliah dimana. Mesir, Turki, Amerika, ah entahlah, pikir keri wae.

          Tiap akhir tahun ajaran seperti ini, biasanya pesantrenku mengadakan acara pelepasan santri dengan berbagai macam pertunjukan, yang dinamakan Akhirussanah. Karena aku saat ini adalah santri tingkat akhir, juga teman-temanku yang lainnya, maka giliran kami lah yang akan tampil di panggung. Setelah itu kami semua dapat melanjutkan kehidupan kami yang lain, di luar pondok pesantren. Kami akan segera meninggalkan penjara suci ini.

          Di tahun ini acaranya sedikit berbeda. Ada tambahan pidato bahasa arab dan inggris. Aku ditunjuk oleh guruku ikut drama, juga Author dan teman-temanku yang lain. Dan yang lebih menyenangkan lagi, kami digabung dengan santri putri. Aku berharap ada dia, tapi sepertinya harapanku belum dikabulkan sekarang. Aku menghembuskan nafas dan agak sedikit kecewa.

          “Lagi mikirin siapa sih, Lik?, kok bengong aja.” Author menepuk pundakku

          “Nggak apa-apa, Thor.” Jawabku

          “Jangan boong. Aku kui sahabatmu, raiso ngapusi koe.”

          “Apaan sih, Thor, gak jelas.”

          “Koe mikirke perempuan yooo.”

          “Enggak.”

          “Ekhemm, ekhemm.” Dia sengaja batuk dan sepertinya dia akan memberi petuah-petuah aneh lagi.

          “Wahai Malik. Jika dia memang jodohmu, santuy saja, nanti Allah bakal mempertemukanmu dengan dia, kok. Kalem, tenang, rilex.”

          “Sok tahu kamu, Thor.” Aku membalas petuahnya dengan sebal

          “Tapi , Lik. Jika dia bukan jodohmu, ya sudah, ikhlaskanlah buatku.” Dia berpetuah gak jelas lagi.

Aku langsung menarik kupingnya dan meneriakinya “Gendeeengg.”

***

Latihan demi latihan ku jalani, meskipun gagal beberapa kali. Kami memegang prinsip ‘man jadda wajada’, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan  berhasil. Berlatih dan terus berlatih, itulah yang harus kami lakukan. Kami berlatih sebentar sembari memperbaiki kesalahan-kesalahan yang kami lakukan. Setelah selesai, aku melangkah pergi mencari tempat sepi, untuk sekedar mencari inspirasi. Saat sedang asyik-asyiknya berimajinasi, seseorang menyapaku.

          “Hai.” ucapnya sembari melambaikan tangan.

Ternyata dia, aku kaget sekaligus senang, dan langsung menyapa balik

          “Hai juga.”

          “Oh ya, kita belum kenalan. Namaku Malik, Abdullah Malik. Kalau kamu?” Aku memulai percakapan basa-basi

          “Namaku Aliya, Aliya fatma Nuraini.” Dia mengenalkan dirinya sambil menunjukkan senyum manisnya.

          “Oohhh…., Btw kamu kok disini, emangnya kamu ikut apa?”

          “Aku ikut Song singing. Kamu juga ikut apa?” Aliya menanyaiku balik

          “Tuh, liat sendiri.” Aku menunjukkan teman-temanku yang sedang serius membahas drama. Tapi aku sadar, dimana Author?, kenapa dia tidak nampak. Ahh biarlah ,aku malas memikirnya.

          “Ohh drama.” Sambil menganggukkan kepala

          “Ekhemmm, ekheemm…., seger dhee.”

Aku terkejut, suara siapa itu. Jangan-jangan….., benarkan dugaanku, ternyata Author memperhatikanku dari tadi.

          “Eh, Lik…aku duluan ya.”

          “Eh, tunggu-tunggu…” Tapi Aliya pergi dengan cepat meninggalkanku.

          “Siapa tuh, Lik?”Author nongol dan menanyaiku.

          “Bukan siapa-siapa, ayo latihan lagi.” Aku langsung pergi menuju tempat latihan.

          “Uhuyy, uhuyy.” Author terus menggodaku dan kami berdua kembali latihan.

***

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Para santri, guru, serta masyarakat sekitar silih-berganti berdatangan dengan muka yang bersinar. Tentunya juga Pengasuh Pondok Pesantren Nurus Syafaah, Drs.KH.Muhammad Thoriq.L.c.M.a. Dan juga tamu undangan kejutan, habib besar dari Yaman, Habib Ahmad bin Thohari Al-Hafidz yang sedang berjalan takdzim diikuti Khadim-khadimnya.

Acara pun dimulai dengan sambutan meriah dari kedua MC yang berprestasi lalu diawali dengan bacaan Ummul furqon bersama. Acara kedua sambutan dari Pengasuh Pondok Pesantren Nurus Syafaah, Drs.KH.Muhammad Thoriq. L.c.M.a. Beliau berjalan menuju panggung dengan takdzim, lalu duduk dan mengucapkan salam serta melafalkan muqoddimah-muqoddimah yang membuat beliau semakin berwibawa.

          “Anak-anakku, tanamkan tekadmu sedalam rasa cintamu terhadap tuhanmu.” Beliau memberikan petuah berharga agar santri selalu bertaqwa kepada Allah yang Maha Esa. Aku akan selalu mengingat perkataan beliau. Dan juga akan selalu kutanamkan dalam hati. Aku janji!

***

Acara terus berlanjut. Terkadang penonton tertawa ketika melihat aksi lucu dari Rahman dkk. Juga terkadang penonton terharu menangis ketika mendengarkan bait-bait puisi perpisahan. Semua berjalan lancar, tak ada kendala.

Tibalah saat giliranku. Aku menampilkan seorang polisi yang menangkap tokoh utama Firza-nama pameran dari Alfin-. Dia seorang murid nakal yang suka berkelahi dan dia bersekolah di SMA Rajapati. Dia punya musuh bebuyutan dari sekolah seberang, SMA Sriwijaya, yaitu Arok-nama pameran Author- dan Jack-nama pameran Barok. Aku menangkapnya karena Firza sedang berkelahi dengan Arok dan Jack. Firza tidak terima karena sahabatnya Arya-nama pameran dari bang Salud- dibunuh. Akhirnya Firza dipenjara dan yang lainnya lolos. Aku menasehatinya dan kemudian aku bebaskan dari penjara. Firza tobat dan dia mondok ke salah satu pesantren. Disana dia dijodohkan oleh anak kyainya yang ternyata salah satu perempuan yang disukai saat dia SMA, lalu mereka hidup bahagia bersama selamanya. Penonton bersorak ramai ketika pertunjukan selesai, dan ketika kulihat ke arah penonton. Ada Aliya disana yang sedang melambaikan tangannya kepadaku, akupun tersenyum sembari keluar dari panggung.

Pertunjukan yang aku tunggu-tunggu, Song singing. Aku menepukkan tangan sekeras-kerasnya ketika Aliya berdiri di atas panggung. Dia menyanyi lagu solo, judulnya ‘All I Want’.

“All I want, is nothing more..” Suaranya yang begitu lembut membuatku merasakan getaran jiwa yang sangat dahsyat. Aku termangu menatapnya, tak sedetik pun aku berpaling dari wajahnya. Aku memerhatikannya secara telili, matanya yang indah, kulitnya yang putih bersih. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta?. Ya Allah, jika aku jatuh cinta pada hamba-mu, jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh hingga melupakan hakikat dzat keabadian-mu. Ya Allah, jika aku menikmati cinta pada hamba-mu, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.

***

Pertunjukan selesai. Aku melambaikan tangan kepada Aliya dan Aliya tersenyum manis kehadapanku.

Acara terakhir. Mauidhoh Hasanah, yang akan langsung dipimpin oleh habib besar dari Negeri Yaman, Habib Ahmad bin Thohari. Semua bertepuk tangan meriah ketika beliau berjalan maju ke depan. Beliau mengucapkan salam dan melafalkan doa-doa entah aku ketahui. Suaranya yang berwibawa laksana raja membuat semua orang terdiam. Tidak ada  yang bersuara meskipun anak kecil. Aku mendengarkan beliau sambil meresapi kata-katanya. Aku menikmatinya sampai-sampai tak terasa beliau sudah mengucapkan salam.Acara pun selesai, dan ditutup dengan bacaan Hamdalah bersama.

Aku mencari Aliya, tetapi tidak menemukannya. Dimana dia, apa dia sudah pulang ke asramanya?,aku bergumam dalam hati. Aku lantas mencari-cari lagi, dan akhirnya….Bingo!, aku menemukannya. Dia sedang duduk sendirian di belakang panggung.

          “Assalamualaikum, Aliya.” Aku mengucap salam

Aliya kaget ketika aku sudah berada di belakangnya.

          “Ehh, Waalaikumsalam, Malik. Duhhh, ngagetin aja kamu.”

Aku tertawa melihatnya kesal. Kesal-kesal gini dia ternyata masih cantik, ya Allah, ampunilah hambamu ini. Batinku.

          “Lik, oi, Lik Malik, kok mandangin aku terus sih.”

Aku tersadar dari lamunanku

          “Ehh, nggak kok. Siapa yang mandangin kamu, jangan kege-eran.”

Aliya tersenyum puas ketika memandangiku setengah plengah-plengoh ini.

          “Aku punya sesuatu buatmu,. Tunggu sebentar ya!” Aliya lalu berlari ke samping panggung, lalu kembali sambil membawa kotak bingkisan yang entah aku tidak tahu isinya.

          “Nih. Simpan baik-baik,ya. Jangan sampai hilang.” Aliya menyodorkan kotak bingkisan kepadaku

          “Apaan nih, boleh dibuka?”

          “Jangan, jangan. Nanti saja kalau kamu sedang sendiri.”

          “Okelahh…, sekarang gantian aku. Aku juga punya sesuatu buatmu, jangan kamu lupain ya, simpan baik-baik dalam hatimu dan jawablah juga dari hati yang paling dalam. Ingat?”

          “Iya, aku ingat.”

          “Nahh…coba sekarang kamu tutup mata kamu. Jangan dibuka sebelum kuperintah. Ingat?”

          “Iya, iya, aku ingat.” Ucapnya sambil memejamkan mata

Aku lalu membisikinya dan berkata “Aku mencintaimu karena Allah, Aliya.”

Aliya terdiam seketika dan kemudian dia tersenyum sambil mengucapkan sebutir kalimat indah kepadaku. “Aku juga mencintaimu karena Allah, Malik.”

Oleh: Muhammad Azka Rifa’i. Santri Kelas Persiapan, asal Jakarta.